Home DUNIA Benarkah Seni Rupa Modern Lahir dari Pelacuran?

Benarkah Seni Rupa Modern Lahir dari Pelacuran?

938
0

Oleh 

SENI.co.id – Pelacuran adalah bagian sentral dari kehidupan sehari-hari di akhir abad ke-19 Paris. Dan karenanya prostitusi adalah kunci untuk memahami seni di masa itu dan segala sesuatu yang menyertainya, tulis Jason Farago.

Kita terlalu sering menstereotipkan Impresionisme dan kecenderungan lain dari seni rupa Perancis sebelum dan sekitar tahun 1900 sebagai berikut: serumpun bunga matahari dan tumpukan jerami, bayi dan balerina, yang terlihat cantik pada kartu pos atau dinding kamar pondokan.

Tapi seni rupa Perancis modern saat itu tidaklah sesantun itu.

Paris di akhir abad ke-19 adalah sebuah kota di tengah transisi sosial besar-besaran, dan seni zaman itu mengungkapkan jauh lebih banyak dari sekadar alam.

Seni yang menggambarkan suatu dunia urban baru, dengan semua kerumitannya dan tak menghindar dari tabu apa pun, tidak juga dari kawasan bordil Pigalle.

Seperti tergambar dalam pameran Kemegahan dan Kesengsaraan: Gambar-gambar Pelacuran, 1850-1910 di Musée d’Orsay di Paris. Ini adalah pameran besar pertama yang menyorot tema yang menjadi pusat seni lukis modern Perancis yang kita sering meluputkannya.

Pelacur adalah subjek kunci bagi para seniman di Paris, dan mungkin dua lukisan paling revolusioner dari masa itu- karya Manet, Olympia dan karya Picasso, Demoiselles d’Avignon- menggambarkan para pekerja seks.

Prostitusi, sekarang tersembunyi dalam bayang-bayang, bagi pelukis itu merupakan fakta modernitas, dan sementara mereka menarik inspirasi dari perempuan malam, mereka juga tidak membayangkan adanya jarak antara studio dan rumah bordil yang terlalu lebar.

henri gervexsImage copyrightAP
Image caption‘Rolla’ karya Henri Gervex, di antara pengunjung pameran tentang seni dan pelacuran di Museum Van Gogh, Amsterdam.

Charles Baudelaire, dalam catatan intimnya di masa awal, mengkesplisitkan kesamaan itu, “Apakah seni itu? Pelacuran.”

Sarang kebejatan

Kita sekarang menganggap pelacur sebagai salah satu kategori tatanan sosial yang paling buruk, yang dibicarakan dengan nada jijik ketika kita membincangkannya.

Tapi di Paris pada akhir abad ke-19, prostitusi adalah bagian sentral dari kehidupan sehari-hari, suatu transaksi pribadi dengan konsekuensi publik.

Prostitusi diatur secara sangat ketat pada masa pemerintahan Napoleon III dan ini terus berlangsung hingga abad ke-20.

Bujuk raya digolongkan ilegal dan perempuan harus mendaftar pada polisi, bekerja di satu rumah bordil saja dan membayar pajak.

(Bordil dilarang di Perancis pada tahun 1946; namun menjual seks tetap legal, meskipun negara ini sedang terlibat dalam perdebatan panas tentang apakah akan mengkriminalisasi pembeli seks, seperti yang diberlakukan di Swedia.)

LautrecImage copyrightHenri de ToulouseLautrec
Image captionRue des Moulins karya Henri de Toulouse-Lautrec melukiskan pemeriksaan kesehatan terhadap pelacur yang lebih menghinakan ketimbang pelacuran itu sendiri.

Pemerintah dan polisi pengawas yang disebut brigade des mœurs, atau semacam satuan penyakit masyarakat skuad, bisa angin-anginan, sikapnya plin-pan, dan koran sering melaporkan para perempuan malang yang memilih bunuh diri ketimbang diseret ke balai kota.

Para pelacur abad ke-19 itu juga harus menjalani pemeriksaan kesehatan wajib setiap bulan -yang, seperti digambarkan pelukis yang terobsesi pelacur- Henri de Toulouse-Lautrec dalam lukisannya Rue des Moulins, bisa lebih memalukan daripada pekerjaan seks itu sendiri.

Para perempuan ganjen dan centil mengenakan blus dan kaus kaki, tetapi tidak mengenakan rok atau celana dalam; mereka terlihat kelelahan, dihinakan, lebih merupakan korban birokrasi ketimbang korban pengguna mereka.

Hanya beberapa anak tangga lebih tinggi dari tangga sosial adalah gundik, pelacur yang selain menjual seks juga menawarkan glamor, percakapan, dan gengsi publik.

Banyak gundik ini yang menjadi selebritas, dengan segala tindak-tanduk -dan bahkan klien mereka- dilaporkan dalam pers gosip yang sedang berkembang.

La Paiva, gundik kelas atas di Kekaisaran Kedua (1852-1870), lahir di ghetto Moskow dan dengan lancar menemukan jalan ke Champs-Elysées, dan menerima tamunya di sebuah rumah mewah yang liar lengkap dengan bak mandi onyx yang kerannya mengalirkan sampanye.

(Ketika dia meninggal pada tahun 1884, suami terakhirnya mengawetkan tubuhnya dengan formalin dan menempatkan jenazahnya di lotengnya. Hal yang agak mengejutkan bagi istri barunya.)

Perupa dan sastrawan adalah seniman yang begitu terpikat oleh pelacur dan gundik dari semua kelas.

Apollonie Sabatier, seorang kelas atas yang dikenal fansnya sebagai ‘La Presidente’ atau sang presiden, mengubah rumahnya menjadi semacam salon borjuis, tempat kongkow yang sering dikunjungi oleh Eugène Delacroix, Gustave Flaubert, dan terutama Charles Baudelaire.

Sabatier juga melayani Baudelaire sebagai penghibur yang dibayar.

Sabatier Apolonie Sabatier bahkan diabadikan oleh pematung akademik Auguste Clésinger: Femme piquée par un serpent, (Perempuan Digigit Ular, 1847), sebuah karya sangat kontroversial pada zamannya, terutama karena Clésinger membuat karya itu lewat cetakan dari tubuh Sabatier yang telanjang.

Para pelacur berbagai kelas telah tampil sebagai model dan penghibur bagi para seniman, sebetulnya sudah sejak awal zaman Renaisans.

Dalam Venus dari Urbino, karya Titian tahun 1538, misalnya, dewi cinta dalam karya itu sebenarnya adalah Angela del Moro, salah seorang perempuan penghibur dengan bayaran tertinggi di Venesia.

La PaivaImage copyrightwww.bridgemanart.com
Image captionLa Paiva adalah seorang pelacur kelas atas yang juga selebritas Paris abad ke-19 Paris, yang gerak-gerik serta para kliennya dimuat berbagai media

Tetapi pada tahun 1860-an, Édouard Manet sudah muak dengan perlukisan semacam itu, dan ia memutuskan untuk melukis adegan yang akrab bagi semua orang (atau setidaknya setiap orang borjuis) di seantero kota.

Dalam acuan langsung terhadap Venus dari Urbino, Manet melukiskan seorang perempuan telanjang di tempat tidur, sandal menjuntai dari kakinya, pita melingkar di lehernya dan bunga terselip di rambutnya. Ekspresinya begitu datar cenderung kosong.

Kita tidak lagi berada dalam dunia dewa-dewi dan peri air: Selamat datang di Paris di zaman keemasan rumah-rumah pelacuran Maison Close.

Model yang digunakan Manet untuk melukis Olympia sebenarnya bukan pelacur sama sekali, melainkan sesama pelukis Victorine Meurent, yang sudah muncul dalam karyanya yang lain, Déjeuner sur l’Herbe, Mlle V. en costume d’espada, dan banyak lagi.

Namun kehobahan yang ditimbulkan karya berjudul Olympia ini di Paris Salon 1865 -peristiwa seni rupa paling penting di dunia saat itu- belum pernah terjadi sebelumnya.

Koran-koran menulis, bagaimana sejumlah perempuan meledak dalam tangis di hadapan kanvas lukisan itu, dan pelukis lain berteriak dalam kemarahan.

Manet melucuti semua bungkus mitologi yang selama ini dikenakan agar membuat gambar pelacur diterima di dunia seni rupa.

Lebih buruk lagi, ia melakukannya denganperlukisan yang datar, dingin, tanpa tedeng aling-aling, tak kenal ampun, tidak berusaha untuk mensimulasikan ruang nyata melalui perspektif lain.

Sebaliknya, sosok Olympia ditampilkan sepenuhnya dalam warna dan garis yang datar apa adanya.

Image copyrightAuguste Clsinger CC BYSA 2.0 fr
Image captionPerempuan Digigit Ular, 1847, karya sangat kontroversial terutama karena Clésinger membuat karya itu lewat cetakan dari tubuh Sabatier yang telanjang.

Olympia karya Manet menghebohkan di dua lini: yang satu formal, yang lain sosial.

Olympia, yang perempuan, berpose seolah-olah dia adalah dewi cinta, tapi dia benar-benar hanyalah ditampilkan dalam sosok seorang pelacur. Dan Olympia, yang lukisan, tampaknya menjadi representasi tiga dimensi, padahal sebenarnya hanya lukisan dua dimensi.

Kejeniusan luar biasa dari Manet adalah bahwa ia memahami dua tampakan itu saling terkait.

Apa yang membuat karya Manet bisa tampak datar -apa yang memungkinkan karya ke-dwi-matra-an- radikal yang menjadi bibit dari berkembangnya seni abstrak itu- adalah ambruknya norma sosial lama dan tumbuhnya tata sosial dari Paris baru, dilambangkan dengan pergeseran posisi pelacur dari pinggiran ke pusat pergaulan.

Sebagaiman TJ Clark, seorang pakar terkenal tentang Manet, pernah menulis: “Lukisan itu kukuh pada materialitasnya sendiri, tapi melakukannya dalam dan melalui tatapan seorang pelacur.”

Dan dengan demikian, melalui pelacuranlah, atau setidaknya gambaran pelacuran, seni modern kemudian lahir.

Gambaran palsu

Charles Baudelaire, teman baik Manet, menulis lebih dari sekadar bahwa seni itu sendiri adalah semacam prostitusi tapi bahwa Paris sendiri adalah sebuah rumah bordil raksasa.

Melukis, seperti ditunjukkan Manet, adalah terlibat dalam semacam taktik dagang: merayu mata yang melihatnya dengan menyamarkan kebenaran, dengan membuat kata-kata di atas kertas atau cat di atas kanvas tampak seakan kehidupan nyata.

Tapi hanya kaum borjuis -seorang lelaki borjuis, harusnya kita bilang- bisa begitu merasa penuh harga diri dengan menyamakan tindakan penciptaan artistik dengan kerja seks yang dianggap nista dan tak bermartabat.

Kebanyakan pelacur saat itu adalah orang-orang yang putus asa yang datang dari pedalaman Perancis.

Para gundik dan perempuan simpanan mungkin saja ditaburi dengan perhiasan gemerlap dan mandi di kubangan sampanye Veuve Clicquot, tetapi sebagian besar pelacur adalah manusia putus asa yang meninggalkan kawasan pedalaman Perancis, yang tak punya uang atau rasa aman, dan sering menjadi korban kekerasan.

Kadang-kadang, seperti dalam karya-karya Toulouse-Lautrec yang menunjukkan pemeriksaan medis yang menghinakan, para pengunjung galeri mendapatkan kenyataan itu sekilas. Lebih sering, seniman modern memunculkan citra ‘pelacur yang bahagia’: independen, tak merasa ada yang salah, dan menikmati profesinya sebagaimana kaum pria pelanggan mereka.

Itu merupakan fantasi: fantasi yang mendasar bagi seni modern, tapi sekaligus juga merupakan kepalsuan.

Olympia ManetImage copyrightEdouard Manet
Image caption‘Olympia’ karya Manet mengubah pendekatan dalam menampilkan pelacur dalam seni rupa.

Baru di abad ke-20 para seniman -seniman perempuan, terutama- menyorot realitas prostitusi tidak dengan mata romantis.

Saya pikir terutama dari Chantal Akerman, pembaharu dan sutradara film Belgia, yang karyanya, Jeanne Dielman 23 quai du Commerce, 1080 Bruxelles, yang menggambarkan kehidupan sehari-hari seorang janda yang satu-satunya penghasilannya didapat dengan ‘memanfaatkan’ rumahnya.

Jeanne Dielman, salah satu landmark film feminis, menggambarkan pelacuran bukan sebagai pilihan pribadi tetapi sebagai desakan ekonomi, bagian dari sistem lebih besar yang menempatkan perempuan dalam posisi yang tidak pernah sepenuhnya independen.

Itu pandangan yang bahkan seniman pria paling radikal dari abad ke-19 sekalipun akan susah menerima- kendati, dalam cahaya temaram di Maison Close, mereka sebetulnya bisa melihat hal itu di wajah perempuan-perempuan miskin yang malang itu.

Silakan menyimak artikel ini dalam versi aslinya, Courtesans and street walkers: prostitutes in arts dan artikel sejenis di BBC Culture.

(BBC/AHM)

Leave a comment

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here