Home AGENDA Inilah Hadiah Sastra “RANCAGÉ” 2016

Inilah Hadiah Sastra “RANCAGÉ” 2016

1869
0
SENI.co.id – Sebelumnya kami sampai bahwa tulisan yang ada dibawah ini kami kutip dari lama akun Facebok Yayasan Kebudayaan Rancagé jadi kami hanya ingin program penghargaan Racage yang digagas sastrawan besar Ajip Rosisdi ini kami publikasikan. Sebagai media kami merasa patut menginformasikan ini. Untuk itu juga kamai sampaikan selama para peraih Rancage.
HADIAH SASTERA “RANCAGÉ” 2016
Kepada Allah SWT-lah kita bersyukur karena tahun ini juga Hadiah Sastera “Rancagé” insya Allah akan diserahkan kepada para sasterawan yang menulis dalam bahasa ibu Sunda, Jawa, Bali dan Batak seperti tahun sebelumnya. Karena tahun 2015 tidak ada buku terbit dalam bahasa Banjar, maka tidak ada hadiah untuk sastera Banjar. Untuk mendapat hadiah sastera “Rancagé” penerbitan buku dalam sesuatu bahasa ibu harus paling tidak ada penerbitan karya sastera dalam bahasa tersebut selama tiga tahun berturut-turut.
Tahun yang lalu ada buku terbit dalam bahasa Batak sehingga tahun ini pun diberikan Hadiah “Rancagé” buat sastera Batak. Sayanglah bahwa tidak kami terima buku karya satera dalam bahasa Lampung sehingga tahun ini pun tidak ada hadiah untuk sastera Lampung.
Saya menyusun Keputusan ini berdasarkan laporan pertimbangan yang disampaikan oléh para juri untuk masing-masing bahasa. Biasanya laporan pertimbangan para juri itu cukup panjang, sehingga saya harus menyingkat dan merumuskan kembali dalam bahasa saya. Sedang laporan pertimbangan yang asli saya simpan sebagai dokuméntasi. Tapi laporan pertimbangan untuk sastera Batak tahun ini yang disampaikan oléh Sdr. Parakitri Simbolon sangat saya sayangkan kalau hanya disimpan sebagai dokuméntasi saja, karena dalam laporan pertimbangan itu kecuali mengemukakan pendapatnya tentang karya sastera yang dipertimbangkannya, melainkan juga mengemukakan latar belakang téori yang digunakannya. Karena itu setelah saya singkat dan rumuskan menjadi seperti tercantum dalam Keputusan ini, naskah aslinya secara lengkap juga saya muatkan dalam brosur Hadiah Sastera Rancagé 2016 agar dapat dibaca oléh masarakat lebih luas.
Hadiah Sastera ”Rancagé” 2016 untuk Sastera Sunda
Dalam tahun 2015 yang lalu, ada 24 judul buku Sunda yang terbit, tapi sebagian merupakan cétak ulang, terjemahan atau meurupakan karya bersama sehingga tidak termasuk karya yang dinilai buat mendapatkan Hadiah Sastera “Rancagé”. Maka buku yang dinilai untuk mendapat Hadiah “Rancagé” ada 14 judul yaitu Kiceupna Virtual karya Wahyu Heriyadi, Cikahuripan, lalakon mupusti hulu cai karya Toto Sudito, Lalakon nu Ngalalakon karya Inda Nugraha Hidayat, Mangsa Bungur Mangkak Kembangan karya Djohar Efsa, Tritangtu jeung Niskala Purbajati karya Imam Mudrika, Surat dina Kalakay karya Muhammad Ridwan Trijana, Mun Tulus jadi Randa karya Holisoh ME, Hayang Panggih jeung Nabi Hidir karya Usép Romli HM, Nadran karya Ahmad Bakri, Nu Imut di Péngkolan jeung Marakayangan karya Andang S. Argayuda dan 3 judul untuk dinilai buat mendapatkan Hadiah Samsudi, yaitu Ngala Jangkrik karya Holisoh ME, Péngkolan jalan Cikajang karya Usép Romli HM, dan Béntang Hariring karya Dian Héndrayana.
Setelah dibaca dan dipertimbangkan dengan saksama maka ada dua judul yang dinominasikan untuk mendapat Hadiah “Rancagé” yaitu Mun Tulus jadi Randa (Kalau Terlaksana jadi Janda) karya Holisoh ME dan Nadran (Ziarah ke Makam) karya Ahmad Bakri. Keduanya merupakan kumpulan cerita péndék.
Ada 16 cerita yang dimuat dalam Mun Tulus jadi Randa, Seperti album kenangan semua menceritakan kehidupan masa lampau agaknya masa awal Orde Baru waktu televisi masih jarang yang punya, orang désa masih suka menonton filem misbar atau layar tancap. Pembangunan fisik mulai masuk ke pedésaan. Dengan latar belakang seperti itu tokoh-tokoh cerita Holisoh menghadapi berbagai masalah, baik yang bertalian dengan keluarga maupun masalah hidup sehari-hari. Yang menjadi tokohnya umumnya orang kecil seperti petani, bandar hasil bumi kecil-kecilan, guru atau kepala sekolah di tempat terpencil yang kalau hujan tak dapat dicapai dengan ojég.
Kisahan yang dikenal baik oléh pengarang didukung oléh kepandaiannya menyusun dialog yang hidup serta déskripsi peristiwa demi peristiwa yang menarik menyebabkan cerita-cerita péndék Holisoh terasa mengalir lancar waktu dibaca. Hanya sayang cerita-cerita dalam Mun Tulus jadi Randa tidak memberikan pandangan baru bagi suatu persoalan. Akibatnya cerita-cerita itu hanya menjadi dongéng nasihat, kalau bukan “untuk dijadikan contoh” tentu “untuk menjadi cermin”.
Tujuh cerita yang dimuat dalam Nadran juga mengisahkan masa lampau, malah dari jaman yang lebih tua daripada cerita-cerita Holisoh dalam Mun Tulus jadi Randa, sebab dalam cerita Ahmad Bakri masih disebut uang “bénggol” (dua setengah sén). Seperti Holisoh tokoh-tokoh Ahmad Bakri juga orang-orang kecil di pedésaan dengan berbagai kisah: penipuan, kurang matang pertimbangan, berbagai kepercayaan yang masih hidup dalam masarakat. Berlainan dengan Holisoh, karya-karya Ahmad Bakri terasa lebih mendalam. Kisah yang khas oléh Ahmad Bakri dianyam dengan percakapan yang hidup dan déskripsi mendetail didukung oléh susunan adegan yang menjadi plot yang kuat serta diperkuat dengan kekayaan bahasa yang banyak menggunakan bahasa dialék, menyebabkan Nadran menjadi kumpulan cerita yang menonjol.
Percakapan, déskripsi, kekayaan bahasa dan plot menjadi kekuatan Ahmad Bakri. Anasir-anasir struktur itu oléh Ahmad Bakri dibangun menjadi suasana yang menyérét pembaca ke dalam alur cerita. Maka setelah dipertimbangkan dengan matang, ditetapkanlah bahwa yang mendapat Hadiah Sastera “Rancagé” tahun 2016 untuk karya dalam sastera Sunda adalah
Nadran
Karya Ahmad Bakri
Terbitan Kiblat Buku UtamaBandung
Kepada ahliwaris Ahmad Bakri akan disampaikan Hadiah Sastera “Rancagé” 2016 buat karya berupa piagam dan uang (Rp. 5 juta).
Adapun yang terpilih buat menerima Hadiah Sastera “Rancagé” tahun 2016 untuk jasa dalam sastera Sunda adalah
Adang S.
lahir di Tasikmalaya, 11 Maret, 1939
Sering menggunakan nama Koptu Adang S, karena dia mémang pensiunan tentara dengan pangkat kopral satu. Sudah banyak mengarang ketika masih aktif sebagai tentara, dimuat dalam majalah-majalah bahasa Sunda seperti Gondéwa, Langensari, Sari, Manglé, Hanjuang, Galura, dll. Dia juga menulis dalam bahasa Indonésia meski tidak sebanyak dalam bahasa Sunda. Banyak mengambil latar belakang ketentaraan misalnya pengalamannya waktu menyerbu Timor Timur. Karyanya yang sudah dibukukan, al. Ngepung Kahar Muzakar, Amanat dina Congo Bedil, Néangan Bapa, dll. Awal tahun 1980-an Adang membentuk komunitas Harupat sebagai tempat bagi siapa juga yang ingin belajar mengarang dalam bahasa Sunda, al. telah melahirkan Mémén Durahman, Dadan Djuanda dan Cécép Burdansyah. Tahun 1990-an setelah Harupat bubar, dia mendirikan komunitas Caraka yang bukan saja tempat belajar mengarang, melainkan juga belajar karawitan, sisindiran dan kesenian Sunda lainnya. Usaha Adang ini mendapat dorongan dari para seniman dan pengarang sénior dan telah melahirkan banyak pengarang, téaterawan, penulis skenario, aktor serta aktris baik téater maupun filem. Sampai sekarang komunitas
Caraka masih hidup.
Karena jasa-jasanya dalam menanamkan ilmu mengarang dan berbagai kesenian Sunda, Adang pernah mendapat Anugerah Budaya dari Pemda Kota Bandung.
Kepada Adang S. akan dihaturkan Hadiah Sastera “Rancagé” 2016 dalam bidang jasa untuk sastera Sunda berupa piagam dan uang (Rp. 5 juta).
Hadiah Sastera ”Rancagé” 2016 untuk Sastera Jawa
Dalam tahun 2015 terbit 18 judul buku sastera dalam bahasa Jawa, di antaranya 14 judul dinilai untuk mendapatkan Hadiah Sastera Rancagé 2016, yaitu Mbak Sah karya Fitri Gunawan, Ogal Agel Buntut Kebo karya St. Sri Emyani, Pinari ng Teleng Ati dan Ing Satengahing Alas Brongkos karya Tiwiek SA, Lintang Gumawang karya JFX Hoery, Kluruk karya Anatri Endras Sumekar, Sesanthi Thedak Siti karya Iman Budhi Santosa, Alun Samodra Rasa dan Pralambang karya Ardini Pangastuti, Arak-arakan Joglo Sinangling Gurit karya Bambang Nursinggih, Pangilon, Pangajab dan Macapat Mancawaran karya Yohanes Siyanta, Warung Poci, karya Dr. Maufur dan Dugale Asu Marung Manungsa karya Atmo Sidik. Ada roman, ada kumpulan guritan, kumpulan cerita cekak dan tempat terbitnya pun bertebaran di kota-kota di seluruh Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Setelah dibaca dan dipertimbangkan maka ada 4 judul yang dinominasikan untuk mendapat Hadiah Sastera “Rancagé” 2016, yaitu roman Ing Satengahing Alas Brongkos, kumpulan guritan Lintang Gumawang, roman Alun Samudra Rasa dan Warung Poci.
Roman Ing Satengahing Alas Brongkos mengisahkan sepasang suami-isteri muda Witono dan Srining yang bertengkar ketika naik mobil berdua, karena sang suami di-PHK. Suaminya tersinggung sehingga meninggalkkan Srining dalam mobil sendirian di tengah hutan. Ditolong oleh dua orang penjahat yang membuatnya tak sadar dan semua uang dan barangnya bahkan mobilnya dibawa kabur, tapi Srining berhasil pulang ke rumah dan bésoknya dia masuk kerja tapi dipecat oléh majikannya karena menuntut tanggung jawab majikannya itu yang telah menidurinya. Dia pulang ke kampungnya dan bersama ibunya membuka warung siap saji. Peristiwa selanjutnya sangat dibuat-buat: suaminya bekerja sebagai TKI di Malaysia tapi merasa tidak betah. Ada pulisi yang mengontrak rumahnya dan berhasil menangkap penjahat yang telah merampok Srining. Suami-isteri akhirnya saling memaafkan dan kembali bersama-sama membangun hidup bahagia di kampung kelahiran meréka.
Roman Alun Samodra Rasa juga mengisahkan sepasang suami-isteri yang masih muda, baru empat tahun menikah sudah punya seorang anak perempuan usia 3 tahun. Sang isteri, Intan Purnami, cantik, ramah, energik bekerja di perusahaan besar yang dipimpin oléh orang Jepang. Suami, Bregas Jatmika, pencemburu, mudah marah dan turun tangan, bekerja sebagai sales alat-alat berat. Intan mendapat kepercayaan majikannya membuat Bregas cemburu, sehingga Intan meminta cerai dan keluar dari pekerjaan, pulang ke rumah orang tuanya di Jogja. Ia bertemu kembali dengan bekas kekasihnya, Pram, yang juga sudah menikah tapi juga tidak bahagia. Intan mendirikan art shop dengan bantuan Pram. Tapi ketika art shop itu mulai berkembang datanglah Bregas yang menuntut hak asuh anak dan mengajak rujuk kembali. Pengarang yang pada setiap bab mendahuluinya dengan puisi seperti suluk mendahului adegan dalam pertunjukan wayang kulit dalam bab terakhir menempatkan puisi itu di bagian ujung. Caranya yang khas ini mengingatkan kita akan kebiasaan pelipur lara dalam sastera tradisional yang mendahului dengan nyanyian yang menyiapkan pendengar atau pembaca untuk memasuki suasana adegan yang akan datang.
Kumpulan guritan yang berjudul Lintang Gumawang mengingatkan kita kepada pandangan hidup orang Jawa yang mengatakan bahwa bintang yang tampak berpendar indah itu sebenarnya tidak demikian. Makna tergantung pada keterampilan dan kedalaman pengalaman batin penyair. Pandangan hidup penyair mengubah arti “Lintang Gumawang” menjadi lain, atau sebaliknya. Hoery tidak lagi memberontak terhadap ketidak-adilan, keserakahan, dan kebatilan, tetapi dengan cara yang lain dia menyadarkan kita secara persuasif. .
Buku terakhir yang dinominasikan untuk mendapat Hadiah Sastera “Rancagé” 2016 ialah Warung Poci,kumpulan crita Tegalan karya Dr. Maufur. 71 cerita lucu yang dimuat dalam buku itu akan menyebabkan orang yang membacanya terpingkal-pingkal walau sebenarnya semuanya diangkat dari kehidupan sederhana sehari-hari.
Maka setelah mempertimbangkan dengan saksama keempat buku itu, akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa Hadiah Sastera “Rancagé” 2016 untuk karya dalam sastera Jawa adalah
Alun Samodra Rasa
Karya Ardini Pangastuti
Terbitan Surya Samudra
Kepada Ardini Pangastuti akan dihaturkan Hadiah Sastera “Rancagé” 2016 untuk bidang karya dalam sastera Jawa berupa piagam dan uang (Rp. 5 juta).
Sedangkan Hadiah Sastera “Rancagé” 2016 untuk bidang jasa dalam Sastera Jawa disampaikan kepada
Sri Setyowati
di Surabaya tgl. 27 Juli 1965
Nama lengkapnya Dr. Sri Setyowati, S.Pd, M.Pd. dengan panggilan Trinil. Sudah belasan tahun menjadi dosén di Universitas Negeri Surabaya dan telah menerbitkan buku-buku mengenai pendidikan, al. Pendidikan Seni Tari dan Koréografi bagi anak Usia Dini, Konsép dan Impleméntasi Manajemén Pendidikan, dll.
Menulis karya sastera dalam bahasa Jawa sejak tahun 1990-an, dimuat dalam majalah Jaya Baya dan Panyebar Semangat baik beruipa geguritan, cerita cekak maupun roman. Geguritannya diterbitkan sebagai buku berjudul Donga Kembang Waru, romannya berjudul Sarungé Jagung dan dua buah kumpulan cerita cekaknya adalah Wiring Kuning dan Bathik Prada. Bahasa Jawa yang dipergunakannya cenderung dialék Jawa Timuran,karena ia ingin menunjukkan kekuatan budaya Jawa yang tidak melulu berpusat di keraton.
Selain menulis dalam bahasa ibunya, Sri juga menulis dalam bahasa Indonésia al. Kasih sayang yang Tak Padam, Cerita Rakyat Magetan, Cerita Rakyat Jember, dll. Puisinya dimuat dalam antologi puisi para penyair wanita se-Indonésia Pesona
Gemilang Musim.
Sri adalah figur yang aktif dalam dunia sastera Jawa, terlibat dalam kegiatan Paguyuban Pengarang Sastera Jawa Surabaya (PPSJS) dan menjalin kerjasama dengan berbagai pihak agar sastera Jawa tetap memperoléh aprésiasi di tengah masyarakat.
Kepada Dr. Sri Setyowati akan dihaturkan Hadiah Sastera ”Rancagé” 2016 untuk jasa dalam sastera Jawa berupa piagam dan uang (Rp. 5 juta).
Hadiah Sastera ”Rancagé” 2016 untuk Sastera Bali
Dalam tahun 2015 terbit 17 judul karya sastera dalam bahasa Bali, lebih banyak 5 judul dibandingkan dengan yang terbit tahun sebelumnya. Sementara itu pemuatan karya sastera Bali modéren dalam Bali Orti (suplemen Bali Post) dan Média Swari (suplemen dalam Pos Bali) menambah semarak kegiatan sastera Bali modéren.
Dari 17 judul buku yang terbit itu 6 kumpulan puisi, 6 roman dan 5 kumpulan cerita péndék.
Lelakut (orang-orangan di sawah untuk menakut-nakuti burung) kumpulan sajak karya I Putu Supartika punya beragam téma yang sebagian besar merupakan gerutuan dan kritik penyair terhadap ketidakbérésan di sekitarnya. Mengingatkan kita akan sajak-sjaak Wiji Thukul dan pamflét Réndra dan diakhiri dengan sinisme lugas: “I panjak sami perlu nasi, boya ja perlu réklamasi” (rakyat semua perlu nasi bukan perlu réklamasi).
Bubu dan Rwa Bhineda (Dua yang berbéda) karya I Ketut Aryawan Kenceng, memuat sajak-sajak super péndék, satu sajak terdiri dari satu bait yang berisi 1—4 kalimat dengan jumlah kata 6-18 kata. Dengan sesedikit mungkin kata penyair mengungkapkan berbagai gagasan yang dapat diulas secara luas. Bunyi akhir sajak-sajak itu selalu sama sehingga terasa indah.
Ombak Raré Bali (Ombak kanak-kanak Bali) karya Tudekamarta, padat dengan pesan moral dan ajakan untuk menjunjung kearifan lokal. Sajak “Titiang Raré Bali” (Aku Anak Bali) mengingatkan bahwa Bali sudah milik banyak orang, bukan milik orang Bali saja.
Kumpulan puisi Sang Kinasih (Sang Kekasih) karya Ni Kadék Widiasih, sajak-sajaknya terasa lebih simbolik. Diksinya khas dengan memilih kata-kata yang jarang dipakai dalam percakapan sehari-hari. Dengan karakteristik seperti itu sajak-sajak ini menuntut interprétasi yang serius untuk dapat menyimak makna berlapis. Pemuliaan Sang Kekasih demikian tingginya sehingga menganggapnya sebagai hidup yang sejati yang tak lekang waktu.
Bungarampai Angripta Rum (Menulis Keindahan) disusun oléh Gedé Gita Purnama memuat karya 35 orang penulis muda. Gaya bahasa meréka lugas dengan kesungguhan menjaga rima dan irama, sehingga karya meréka menarik untuk disimak.
Dari 6 buah roman yang terbit tahun yl. lima adalah karya Nyoman Manda, yaitu Uug (Hancur), Buung (Batal), Ngelingkung (Berbélok), Tresnané Leket ring Batur (Cintanya Melekat di Batur) dan Nayung Kenyem Manis (Mengayun Senyum Manis). Roman-roman Nyoman Manda mengandung kritik sosial yang sangat éksplisit dan pesan-pesan pendidikan.Uug melukiskan aktivitas mahasiswa berdémonstrasi menentang rencana proyék réklamasi untuk fasilitas rékréasi dan wisata. Buung mengangkat kisah calon législatif yang batal menjadi wakil rakyat karena menggunakan ijazah palsu. Ngelingkung mengisahkan sepasang suami-isteri yang berselingkuh sehingga keluarga itu hancur. Tresnané Leket ring Batur tentang generasi muda yang setia membangun désa, dan Nayung Kenyem Manis mengisahkan komitmen generasi muda untuk membangun Bali. Seperti tahun-tahun yang lalu karya Nyoman Manda atas permintaannya sendiri tidak dipertimbangkan untuk memperoléh Hadiah “Rancagé” karena dia telah tiga kali menerima Hadiah “Rancagé, pertama untuk jasa dan dua untuk karya.
Roman yang satu lagi adalah Ki Baru Gajah karya I Madé Sugianto kisah tentang keris yang diyakini memiliki kekuatan magis. Judul roman ini adalah nama keris yang nyata ada, tersimpan di sebuah puri di kabupatén Tabanan, yang pada hari raya tertentu diarak menuju sebuah pura di sekitar Tanah Lot. Kisahnya berasal dari cerita rakyat yang ditulis lagi oléh Madé Sugianto dengan menambah tokohnya.
Lima kumpulan cerita péndék adalah Kacunduk ring Besakih (Berjumpa di Besakih), karya IGG Djelantik Santha, Jaen Idup di Bali (Enak Hidup di Bali) karya Madé Suar Timuhun, Calonarang karya I Madé Suarsa, Jro Lalung Ngutah (Jero Telanjang Muntah) karya IBW Widiasa Keniten dan Swecan Widhi (Anugerah Tuhan) karya I Komang Alit Juliartha.
Kacunduk ring Besakih memuat 15 cerita karya IGG Djelantik Santha yang ditulis tahun 2007—2015. Seperti karyanya yang lain, cerita-cerita yang dimuat dalam buku ini pun latar belakang tokoh-tokohnya multiétnik, ada Bali, Sasak, Jawa, keturunan Cina dengan agama yang berlainan, maka seperti dalam karya-karyanya yang lain cerita-cerita dalam buku ini pun menggemakan spirit multikultur. Hubungan antara tokoh-tokoh berlainan étnik, agama dan bahasa itu dilukiskan secara alamiah dengan sesekali menggunakan alih-kode dari bahasa Bali ke bahasa Sasak atau Jawa membuat cerita-cerita itu terasa alami.
Jaén Idup di Bali memuat 18 buah cerita yang menyajikan potrét perubahan sosial yang terjadi di Bali dan sindiran terhadap perilaku masyarakat menghadapinya. Sebagian besar tokohnya adalah remaja atau orang muda. Yang menjadi judul kumpulan ini adalah pertanyaan yang diajukan oléh anak Bali yang lahir dan besar di perantauan, di Kalimantan kepada ayahnya yang ketika hidup di Bali sangat menderita karena terkena serangan ilmu hitam léak akibat ada yang irihati. Hidup di Bali énak kalau bébas dari iri hati dan ancaman ilmu hitam.
Kumpulan ceritaCalonarang memuat 16 cerita yang semua berjudul Calonarang diberi nomor 1 sampai 16. Madé Suarsa menggunakan mitos Calonarang sebagai kisah pertarungan antara rangda yang dipersépsikan sebagai kekuatan négatif dengan barong sebagai kekuatan positif. Léwat 16 cerita Calonarang ini Madé Suarsa berhasil menyusun cerita cinta dan perselingkuhan yang menarik dan dibumbui hubungan séksual yang imajinatif seperti tusukan keris ke badan rangda. Dia juga mampu menyampaikan kritik sosial seperti pernikahan antarkasta yang bermasalah seperti pada Calonarang2.
Jro lalung Ngutah memuat 24 cerita yang merupakan skétsa kehidupan aktual seperti masalah caleg, baliho kampanye, wartawan cari berita, dll. Ada yang melukiskan tokohnya selalu muntah kalau menonton télévisi dan membaca surat kabar karena melihat dan membaca berita tentang korupsi.
Swecan Widhi memuat 15 cerita yang ditulis dua tahun terakhir, 2013—2015. Téma-téma ceritanya menyentuh dituangkan dalam bahasa yang lugas dan lancar. Lukisan latar memperkuat alur dan téma cerita. Cerita pertama “Jogéd” mengisahkan seorang remaja putri yang berhasil menyarankan ibunya berhenti menjadi penari jogéd. Cerita yang judulnya dijadikan judul buku “Swecan Widhi” mengisahkan orang tua miskin yang di luar dugaan mendapat pertolongan dari dokter yang ternyata teman sekelasna waktu di SD. Cerita-cerita lain juga melukiskan perilaku masyarakat Bali dalam menghadapi perubahan sosial akibat pariwisata dan globalisasi.
Setelah semua buku terbitan 2015 itu dipertimbangkan dengan saksama maka ditetapkanlah bahwa Hadiah Sastera “Rancagé” 2016 untuk karya dalam sastera Bali ialah
Swecan Widhi
Karya I Komang Alit Juliartha
Kepada I Komang Alit Juliartha akan dihaturkan Hadiah Sastera Rancagé 2016 untuk karya dalam sastera Bali berupa piagam dan uang (Rp. 5 juta).
Adapun Hadiah Sastera “Rancagé” 2016 untuk jasa dihaturkan kepada
I Gedé Gita Purnama Arsa Putra
Lahir di Dénpasar tg. 29 Oktober 1985
Dalam hampir 10 tahun terakhir Gedé Gita aktif dalam pembinaan bahasa dan sastera Bali serta memperjuangkan nasib bahasa Bali dalam prosés marjinalisasi yang nampak dalam penerbitan buku sastera Bali modéren dan aktivitasnya dalam perjuangan pembinaan bahasa Bali terutama kepada generasi muda. Alumnus Sastera Bali dari Fakultas Sastera dan Budaya Universitas Udayana ini menyunting dan menerbitkan tiga buku yaitu Dénpasar lan Dan Pasar (2013), kumpulan cerita Smara Réka (2014), dan antologi puisi penyair muda Bali modéren Angripta Rum (2015). Sejak 2013 Gedé Gita menjadi Pembina Penulisan Cerpén Bahasa Bali kota Denpasar dalam ajang Pésta Kesenian Bali yang berlangsung setiap tahun (Juni-juli). Dia juga menjadi kontributor aktif dalam rubrik bahasa Bali Bali Orti dan Média Swari.
Menjadi sékertaris Aliansi Peduli Bahasa Bali (APBB) sejak 2012, lembaga sosial yang bergerak dalam bidang pelestarian dan pengembangan bahasa Bali. APBB sejak berdiri telah memperjuangkan keberadaan bahasa Bali sehingga masuk dalam pelajaran wajib di kurikulum sekolah (SD, SMP, SMA/SMK). Perjuangan dilakukan dengan mempersatukan guru, kaum inteléktual, budayawan dan pecinta bahasa Bali untukn bersama merumuskan pentingnya pembinaan bahasa daérah dan mengajukan gagasan tersebut kepada pemerintah melalui DPRD Bali. Meréka melakukan kajian kritis terhadap kurikulum yang mempersempit ruang waktu untuk pelajaran bahasa daérah, dan menuntut komitmen pemerintah daérah dan wakil rakyat untuk membina bahasa dan sastera Bali. Setahun belakangan APBB telah berhasil memperjuangkan UKG (Uji Kompeténsi Guru) bagi seluruh guru bahasa Bali serta menyelesaikan modul guru bahasa Bali. Bekerja sama dengan LPMP (Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan) Provinsi Bali menyelenggarakan diklat bagi semua guru bahasa Bali. APBB menjadi penggagas dan pendorong lahirnya Sarjana Bahasa Bali Pendamping Désa. Untuk tahun 2016 sudah disepakati sebanyak 716 sarjana bahasa Bali sebagai tenaga penyuluh kebahasaan di setiap désa di Bali.
Kepada I Gedé Gita Purnama Arsa Putra akan dihaturkan Hadiah Sastera “Rancagé” 2016 untuk bidang jasa dalam sastera Bali berupa piagam dan uang (Rp. 5 juta).
Hadiah Sastera ”Rancagé” 2016 untuk Sastera Batak
Ada tiga buah buku terbit tahun 2015 dalam bahasa Batak (Toba), yaitu Embas Sian Dakdanak (Tari Gembira Anak-anak) yang tidak dinilai untuk mendapat Hadiah Sastera “Rancagé” sebab merupakan kumpulan karya bersama. Yang dinilai ada dua, keduanya merupakan kumpulan cerita, masing-masing memuat sepuluh cerita. Yang pertama Manigar Sihol (Mengajuk Rindu) karya S. Mida Silaban. Yang kedua Ulos Sorpi (Kain Ulos Terlipat) karya Rose Lumbantoruan.
Cerita-cerita yang dimuat dalam kedua buku itu ternyata cenderung menjadi “cerita berténdéns” yang berubah menjadi didacticism, tapi hal itu tidak menjadi masalah karena hampir tidak ada karya yang tidak mengandung téndéns. Dalam kedua buku ada cerita-cerita yang mengangkat masalah adat sebagai téma, berkaitan dengan peran agama (Kristen) dalam adat dan sebaliknya, sehingga penyesuaian menjadi keharusan. Pusat perhatian kedua buku adalah masalah penyesuaian adat dan agama. Kesepuluh cerita dalam Manigat Sihol mengambil téma ini, tetapi dalam Ulos Sorpi hanya tujuh cerita yang mengambil téma itu.
Mungkin jauh lebih baik bagi upaya melestarikan sastera berbahasa daérah jika meréka menulis hanya karena luapan daya cipta berkat pendalaman masalah hubungan adat dan agama. Sesunguhnya hubungan adat dan agama itru jauh lebih kaya masalah daripada sekedar penyesuaian. Ambil misalnya masalah yang sedang marak sekarang di kampung halaman, yakni bangkitnya nativisme. Sudah bukan rahasia lagi bahwa sejumlah penganut Kristen di kampung halaman memilih Parmalim, agama yang boléh disebut tradisional karena merupakan hasil pertemuan agama Kuno Batak (Toba).
Pengarang-pengarang dalam bahasa daérah punya kelebihan untuk memahami semua ini karena berbéda dengan bahasa Indonésia, bahasa daérah merupakan endapan pengalaman para penuturnya selama ratusan tahun. Bukan salah meréka bahwa bahasa nasional masih harus diperjuangkan untuk bisa jadi wahana mengungkap pengalaman hidup penuturnya. Sementara itu bahasa daérah yang menjadi endapan pengalaman ratusan tahun itu terancam punah.
Buku Ulos Sorpi karya Rose Lumbantoruan lebih mendekati patokan-patokan yang tadi dikemukakan sehingga pantaslah Hadiah Sastera ”Rancagé” 2016 untuk bidang karya diberikan kepada
Ulos Sorpi (Kain Ulos Terlipat)
Karya Rose Lumbantoruan
Terbitan Selasar Péna Talénta, Jakarta
Kepada Rose Lumbantoruan akan dihaturkan Hadiah Sastera “Rancagé” 2016 untuk bidang karya dalam sastera Batak berupa piagam dan uang (Rp. 5 juta).
Hadiah Samsudi 2016 untuk bacaan anak-anak dalam bahasa Sunda
Dalam tahun 2015 ada tiga judul buku bacaan anak-anak dalam bahasa Sunda yang akan dipertimbangkan untuk mendapat Hadiah Samsudi 2016, yaitu Ngala Jangkrik karya Holisoh ME, Péngkolan Jalan Cikajang karya Usép Romli HM, dan Béntang Hariring karya Dian Hédrayana.
Ngala Jangkrik memuat 9 cerita yang semuanya menceritakan pengalaman anak-anak sehari-hari terutama anak-anak sekolah di perkampungan.
Péngkolan Jalan Cikajang memuat enam cerita, tiga di antaranya merupakan kenangan mengenai cinta para remaja di perkampungan Garut, sedang sisanya cerita tentang kekacauan politik pada dasawarsa 1960-an.
Béntang Haririrng menceritakan seorang gadis yatim yang suka menyanyi sehingga menjadi pemenang dalam perlombaan tembang. Dia membantu ibunya sehari-hari yang membuka warung, mengasuh adik-adiknya, sehingga sering tak dapat masuk sekolah. Tapi karena kegiatan dan kemampuannya dalam bidang tembang, ia akhirnya mendapat béasiswa. Baik dibaca oléh anak-anak sekolah dan para remaja yang berusaha mencapai cita-cita.
Karena itu yang ditetapkan memperoléh Hadiah Samsudi 2016 adalah
Béntang Hariring
Karya Dian Hédrayana
Terbitan K.S.B. Rawayan, Bandung).
Kepada Dian Héndrayana akan dihaturkan Hadiah Samsudi 2016 berupa piagam dan uang (Rp. 5 juta).
Penyerahan Hadiah Sastera “Rancagé” dan Hadiah Samsudi insya Alloh akan dilaksanakan pada pembukaan Kongrés Bahasa Daerah Nusantara yang akan diselenggarakan di Bandung.
Pabélan, 31 Januari, 2016
Yayasan Kebudayaan “Rancagé”
Ajip Rosidi
Ketua Déwan Pembina

Leave a comment

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here