Ketika Dodi Rosadi Berkisah dalam Kesenian yang Majemuk

Ketika Dodi Rosadi Berkisah dalam Kesenian yang Majemuk

715
0
SHARE

SENI.co.id –  Inilah kisah seniman yang menarik dan unik dari kota Bandung. Adalah Dodi Rosadi ia sosok seniman yang lumayan beda dengan kebanyakan seangkatannya.

Perupa lulusan Seni Rupa IKIP Bandung ini selalu berkesenian dnegan dunianya. Bahkan dalam konteks kekaryaan seniman satu ini kini lebih dalam dalam dunia karya buku. Tapi selain berkarya dengan karya lukis dan poster juga eksperimen yang kuat Dodi dikenal sangat kuat garisan karyanya dalam gambar-gambarnya.

Kisah buku

Dalam kisah soal buku dia bertutur dengan gamblang saya adalah putra dari , ayah saya seorang penjahit di jl. Tamansari Bandung yang hanya lulusan SD. Dari kecil kami selalu didongengi oleh ayah tentang sebuah kerajaan. Ayah saya selalu menceritakan tentang hilangnya satu peti wawacan dan peralatan perang jaman dulu. Dengan kepercayaan itu saya besar. dan menganggap ayah sedang bercerita saja untuk menenangkan kami anaknya. karena hidup kami waktu itu sangat sulit. Kata ayah saya itu cerita dari wawacan yang dulu sering bapak ceritakan, ada banyak cerita yang ayah ceritakan, tentang si ogin, tentang rangga wulung dan lain-lain.

Ketika dewasa saya merasa heran ko bapak saya yang lulusan SD bisa menceritakan cerita itu dengan fasih. Cerita tentang pasarean panjang dan hilangnya satu peti wawacan.

Kisah berawal ketika di tahun 1999 sebelum pernikahan saya. Saya mengunjungi pameran Naskah kuno di museum SriBaduga. Di sebuah kesempatan saya bertanya kepada penjaga. Kemana saya kalau keluarga saya kehilangan satu peti Naskah Kuno dan beberapa keris serta peralatan perang tumbak encis dan lain-lain. Lalu sang penjaga menyuruh saya untuk bertemu ibu di sebuah ruangan, Diruangan itu saya diberitahu bahwa di Jawa Barat tidak ada naskah dari Ciheulang. Bahkan secara tersirat ibu pimpinan itu menuduh saya berpenyakit Zisropenik. Saya amat terpukul dan kecewa sekali. Menyesal saya pergi ke musium itu. Saking kecewanya saat itu saya memutuskan untuk tidak menjadi seniman lagi. Dan berhubungan dengan segala naskah.Saya sampai mengadu ke Pasarean Panjang. Kuburan leluhur di pasir leutik ciparay. Dan semenjak itu karir berkesenianku hancur!

Pada 2010 saya Googling dan ternyata Naskah di desa Ciheulang itu memang ada! Lalu saya menulis pesan email efeo di jakarta, isinya begini:

“Saya Dodi Rosadi seniman Bandung, dalam naskah katalog naskah jawa barat, halaman 160, tertulis Penyalin Lebe Lebak biru, desa ciheulang ciparay. Sesungguhnya itu adalah kakek buyut saya Nurhalim. Hal ini saya ketahuai dari cerita bapak serta nenek kami di desa ciheulang kab bandung, disana tertera pemilik Pia, yang beralamat di Pagaden subang dan kami tidak mengenal sama sekali bapak Pia ini.. Perlu bapak ketahui, pada jaman gerombolan kami kehilangan satu peti naskah kuno dan peralatan keris karena keluarga kami mengungsi ke bandung. dan ketika pulang lagi peti dan lain2nya sudah hilang.. saya dan keluarga pada tahun 2009 pernah menanyakan hal ini ke Museum Sri baduga, tetapi dari jawaban pengurus museum ketika itu saya disangka berpenyakit Sisropenik. dan menyatakan dijawabarat tidak ada naskah di daerah ciheulang. saya marah dan kecewa waktu itu. lama hal ini terpendam lagi dan ternyata saya baca ada naskah dari ciheulang di buku naskah katalog jawabarat. dengan jelas dan ter stabilo. cek link ini http://books.google.co.id/books?id=RheSrkiK2zYC&pg=PA160&lpg=PA160&dq=lebe+lebak+biru&source=bl&ots=fcsvzRg2d0&sig=IMJcy7rIrUuT2XVD_LufF8Il-Qs&hl=id&ei=IDiATdObHYP3rQfxvN2-Bw&sa=X&oi=book_result&ct=result&resnum=1&ved=0CBUQ6AEwAA#v=onepage&q=lebe%20lebak%20biru&f=false
saya ingin bertanya ttg ini yang kebetulan disana tertulis EFEO BANDUNG. Dan secara terbuka saya tulis hal ini, semoga masyarakat tahu adanya.

Ralat Surat: (* 2009 harusnya 1999, Nurhalim adalah leluhur saya: Saya Dodi Rosadi bin Abdul Rahman bin Ijromi-Upikiah bin Nurhalim bin KH. Husen( Pendiri Pesantren Yapi Al Husaini Ciheulang ciparay) bin Kh. Hasan. Lebe lebak biru tersebut ternyata adalah KH. Hasan turunan Syeik Jafar Sodik Garut) Dan kehilangannya ketika keluarga kami pindah ke bandung di jaman gerombolan tahun 1950 an.

lalu EFEO Jakarta menjawab:

Bapak Dodi Rosadi Yth.,

Perkenalkan, nama saya Vita dari EFEO Jakarta.
Di sini saya akan berusaha menanggapi email Bapak mengenai keluhan yang Bapak sampaikan pada blog naskah kuno yang diupload oleh Bapak Oman Fathurrahman.
Pertama, kami sampaikan bahwa kami ikut menyesal dan turut prihatin atas apa yg menimpa, yakni bahwa keluarga Bapak kehilangan harta yang berupa peti naskah kuno dan keris.
Perlu kami sampaikan, bahwa apa yang ada pada koleksi kami, seluruhnya adalah fotokopi, kami tidak memiliki naskah aslinya. Hal ini telah kami kemukakan pada prakata yang tertera pada blog tersebut:
http://naskahkuno.wordpress.com/2010/09/03/naskah-sunda-di-efeo/

Bagi kami sendiri memang naskah-naskah tersebut tidak jelas riwayatnya. Sebagai informasi, salah seorang rekan kami membuat katalog naskah-naskah yang bersangkutan pada tahun 1990, jadi jauh sesudah musibah menimpa keluarga Bapak.
Mungkin sebagian naskah ternyata pernah ‘selamat’ di suatu tempat yang kami tidak tahu dengan jelas.
Jadi menurut kami, kuncinya ada pada Yayasan Pemeliharaan Naskah (Yapena) di Bandung. Kiranya Bapak bisa menghubungi mereka, karena kami tidak ada hubungan dengan Yayasan ini.

Demikian, atas perhatiannya diucapkan banyak terima kasih.

Salam,

Vita

École française d’Extrême-Orient (EFEO)

Jalan Ampera III No. 26, Jakarta Selatan 12550

Tel. & fax : (62-21) 781 1476, 781 4785

Ketika pencarian itu berlangsung, saya membuat konsep kesenian ini. Tentang bangkitnya kembali kerajaan Sunda meski hanya sebuah andai-andai. Yang penting saya kembali berkesenian.

Dodi Rosadi

itulah kisah Dodi soal pengalaman buku peninggalannya leluluhurnya.

Desain Buku

Kisah itu sangat unik. Dan membuat tergelitik. seni.co.id mengatakan akan menulisnya karena dia baru saja menang Desain cover terbaik Islamic Book Fair 2016. Maka Dodi pun merespon cepat. “Ya silakan ini data saya dan blog saya,”katanya.

dsrDia bercerita juga bahwa  tahun 2014 saya lebih fokus ke desain grafis khususnya desain cover buku. saya rasa desainer cover buku sekarang sangatlah matematis dan melupakan jiwa kerajinan serta sentuhan seninya dalam membuat karya buku.
Kayanya sangat banyak. ini tentang sesuatu kontradiksi keinginan untuk menjajah dunia dengan imajinasi,

melukis dunia dengan cara menaklukan negeri-negeri impian.

lewat sabda yang hanya dapat dimengerti oleh cucuran air mata. kesengsaraan. kebodohan. Aadalah fantasi yang tak dapat dimengerti, bahkan oleh binatang seliar apapun.

tak lain untuk meyakinkan diri sendiri.

bahwa seni adalah penaklukan!

*catatan: berawal dari percobaan di situs ini http://odoygiantfansclub.multiply.com/

GOD SAVE THE KING

Atas segala sesuatu, tentang hilangnya amor fati sebuah bangsa. Bangsa Sunda.

Sejatinya di dunia perbukuan saya lebih suka buku-buku anak, tahun 1999 dan tahun 2002 saya memperoleh penghargaan untuk 2 buku cerita anak saya, Lempaung dan Mandau Pusaka serta Wanter. 17 tahun yang lalu saya di beri selamat olen Menteri Pendidikan waktu itu Yuwono Sudarsonao dan Dirjen kebudayaan Prof Edhi Sedyawati untuk tahun berikutnya. Baru 17 tahun berikutnya oleh Menteri Pendidikan yang sekarang saya memperoleh Penghargaan untuk Buku Dewasa.

Tentang Dodi Rosadi
Born in Bandung July, 4 1969, Dodi Rosadi is one of emerging contemporary artist from Indonesia, devoted lover to both aesthetic taste and interest in the two opposing tendencies, lowbrow art and the Indonesian’s folklore art.

1989 – 1994 : Bachelor degree, Graduate from an institute for teacher education and educational sciences named IKIP Bandung (The Indonesian University of Education), in Art Design.

ART PERFORMANCES

Individual Exhibition
1995 : ISOLATED, at Pentagon Hall, Bandung Institute of Teacher Education in Art Design
1996 : DREAMS, THE SADDEST SOUL, at Bandung
1998-2004 : BEHAVIORAL THINKING, an art of philately to the world
2004 : ARTEFUX, at IF Venue Bandung

Community Exhibiton
Being a part of art exhibition actively, since 1990 through 2006, at Jakarta Art Award, Pasar Seni Ancol

AWARDS
1995 : 1st place on Painting Competittion, at Pasar Seni ITB & C59
1997: – 2nd place on Cover Design Competition IKAPI West Java,
– Finalist of Philip Morris Awards
1998: 2nd Place on Poster Design Competition at Goethe Institute Bandung
1999: – Finalist of Phillip Awards
– Best Illustrator for Children Book, National Education Department
2002: 2nd Place on Fiction Writing and Illustrated Story Competition, National Education Departmentt
2004: 1st Place Gravity Dago Festival, sponsored by Djarum Super

WORK EXPERIENCES
1994 – 1999 : Freelance Illustrator at Pikiran Rakyat Newspaper Bandung
1994 until now: Freelance Illustrator at Horison, Literary Magazine
1994 – 2004: Freelance Illustrator at Kalam, Culture Journal
1999-2004: Freelance Illustrator at Mizan
2005 until now: Book Designer at Mizan Pustaka Publisher.

(HM/SNI)
seni.co.id – Kanal Budaya Indonesia 

Comments

comments

Leave a Reply

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY